ANTARA ATHENA DAN DETAK YANG JEDA

ANTARA ATHENA DAN DETAK YANG JEDA

BAGIAN 1: SEMENTARA DI BELAHAN BUMI YANG BERBEDA

Matahari baru saja memanjat langit timur, menyebarkan rona emas yang hangat di atas atap-atap rumah. Di dalam kamarnya, Zarfa menggeliat pelahan. Kelopak matanya terbuka lambat, menyisakan sisa-sisa mimpi semalam yang perlahan mengabur diterpa cahaya pagi. Hal pertama yang ia lakukan sebuah kebiasaan yang telah menjelma menjadi kebutuhan mutlak adalah meraba-raba permukaan nakas, mencari benda pipih bernama ponsel pintar miliknya. Ketika layar menyala, senyum langsung terukir di wajahnya yang masih polos tanpa riasan. Sebuah notifikasi pesan muncul di sana. Nama pengirimnya selalu berhasil membuat dada Zarfa menghangat ‘Zain’. 

Zain adalah poros dari sebagian besar harinya. Pemuda itu berada sangat jauh, terpisahkan oleh samudra, benua, dan bentangan jarak ribuan kilometer. Zain tinggal di sebuah negeri yang masyhur dengan kisah para dewa dan arsitektur marmer putih yang megah, sebuah tempat bernama Republik Hellenik, atau yang lebih dikenal dunia sebagai Yunani. Secara status, mereka berdua bukanlah sepasang kekasih. Di hadapan dunia dan di antara ucapan-ucapan mereka sendiri, hubungan itu dinamai persahabatan yang erat. Sebuah ikatan platonis yang kokoh, di mana setiap harinya mereka saling bertukar cerita, berbagi tawa, mengirimkan potongan foto aktivitas, dan menjadi pendengar setia bagi keluh kesah satu sama lain. Namun, jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam sesuatu yang selalu mereka sembunyikan di balik topeng kata "sahabat" Ada debar yang berbeda. Ada rasa suka yang tak berani melintasi bibir karena takut merusak kenyamanan yang sudah ada.

Pagi itu, pesan dari Zain membawa kabar besar.
Zain: "Zarfa! Kamu tidak akan percaya ini. Aku baru saja mendapat surat resmi dari pihak manajemen. Aku diterima bekerja di perusahaan pariwisata bergengsi di Athena! Ini posisi yang sangat aku incar selama ini." Di bawah baris teks tersebut, sebuah foto terlampir. Zain berdiri di depan sebuah gedung kaca modern dengan latar belakang langit Yunani yang biru bersih tanpa cela. Ia mengenakan kemeja rapi, tersenyum lebar hingga matanya menyipit, sambil memegang surat kelulusan bersimbol emas. Di pesan berikutnya, ia menambahkan:

Zain: "Ini foto kantorku. Besok pagi aku sudah mulai bekerja dan masuk orientasi. Aku sangat gugup, tetapi aku ingin kamu menjadi orang pertama yang tahu tentang kabar ini." 

Zarfa membaca pesan-pesan itu dengan binar mata yang tak meredup. Jari-jarinya dengan cepat menari di atas papan ketik virtual, mengetikkan balasan dengan penuh antusiasme.

Zarfa: "Wah, selamat, Zain! Aku tahu kamu pasti bisa melaluinya. Kamu selalu bekerja keras untuk ini. Perusahaan itu sangat beruntung mendapatkanmu. Aku benar-benar bangga padamu!"

Jarak waktu antara mereka memang menjadi tantangan tersendiri. Perbedaan zona waktu sekitar empat hingga lima jam membuat ritme hidup mereka harus saling menyesuaikan. Saat Zarfa menyambut pagi yang cerah untuk memulai hari dan bersiap pergi ke sekolah, di Yunani waktu justru sedang merambat naik menuju larut malam, di mana sebagian besar manusia telah menjemput mimpi. Zain membalas dengan cepat, seolah ia memang sengaja begadang demi menunggu Zarfa terbangun di seberang sana.

Zain: "Terima kasih, Zarfa. Dukunganmu dari jauh selalu menjadi bahan bakar utamaku. Kalau bukan karena kamu yang selalu meyakinkanku saat aku merasa ragu, mungkin aku sudah mundur sejak wawancara tahap pertama."

Zarfa tersenyum kecil, namun dadanya tiba-tiba berdenyut agak nyeri. Bukan karena cemburu atau sedih, melainkan karena sebuah rasa tidak nyaman secara fisik yang akhir-akhir ini sering mengganggunya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengabaikan rasa lemas yang mendadak menyerang persendiannya. Ia melihat jam di dinding kamarnya yang terus berputar, mengingatkannya pada kewajiban pagi.

Zarfa tahu Zain membutuhkan istirahat yang cukup. Besok adalah hari pertamanya bekerja di tempat baru, dan ia tidak ingin sahabatnya atau lelaki yang diam-diam ia cintai itu tampil dengan lingkaran hitam di bawah mata karena kekurangan tidur.

Zarfa: "Zain, di sana sudah sangat larut malam, bukan? Kamu harus segera mematikan ponselmu dan tidur. Hari esok adalah hari besarmu, dan kamu butuh stamina penuh. Aku tidak mau mendengarmu menguap di depan bos barumu nanti."

Zain: "Hahaha, baiklah, Dokter Zarfa. Kamu benar. Aku terlalu bersemangat sampai lupa waktu. Terima kasih sudah mengingatkanku."

Zarfa: "Sama-sama. Sekarang, pejamkan matamu. Selamat tidur, Zain. Semoga harimu menyenangkan besok."

Zain: "Selamat pagi untukmu, Zarfa. Semangat sekolahnya. Sampai nanti." Zarfa menatap layar ponselnya yang perlahan meredup dan mengunci otomatis. Ia menghela napas panjang, memeluk gulingnya sejenak sebelum memaksa tubuhnya yang terasa kian berat untuk bangkit. Ia harus segera mandi, mengenakan seragam, dan berangkat ke sekolah. Ia tidak boleh terlambat, meski belakangan ini tubuhnya sering kali menolak untuk diajak berkompromi.

BAGIAN 2: RAHASIA DI BALIK LENTERA YANG MEREDUP

Sesampainya di sekolah, atmosfer riuh khas remaja langsung menyambut Zarfa. Lorong-lorong dipenuhi oleh langkah kaki siswa, candaan yang saling bersahutan, dan derit sepatu yang bergesekan dengan lantai tegel. Namun, bagi Zarfa, semua suara itu terdengar agak menjauh, seolah ada dinding transparan yang memisahkannya dari dunia luar. Kegembiraannya atas keberhasilan Zain masih menyisakan kehangatan, tetapi rasa lelah di tubuhnya perlahan-lahan mulai mengambil alih kendali.
Di dalam kelas, Zarfa duduk di bangkunya dekat jendela. Ia memandangi lapangan sekolah yang perlahan mulai sepi karena bel masuk telah berbunyi. Beberapa kali ia kedapatan melamun oleh guru di depan kelas. Bukan karena ia tidak memperhatikan pelajaran, melainkan karena ia sedang menahan rasa sakit yang menusuk di area dadanya, disertai dengan rasa pusing yang datang bergelombang. Seiring berjalannya minggu, kesibukan Zain di Yunani meningkat secara drastis. Industri pariwisata di Athena bergerak dengan kecepatan tinggi, dan sebagai karyawan baru di perusahaan bergengsi, Zain dituntut untuk memberikan seluruh fokus, waktu, dan energinya. Pesan-pesan yang biasanya mengalir tanpa henti setiap jam, kini mulai menyusut. Pola komunikasi mereka berubah menjadi pesan-pesan singkat di sela-sela jam istirahat atau ucapan selamat malam yang sering kali baru terbaca oleh Zarfa ketika hari telah berganti.

Zarfa sama sekali tidak menaruh benci atau rasa kesal. Ia memahami bahwa dunia Zain kini telah meluas, bahwa lelaki itu sedang membangun masa depannya di negeri seberang. Namun, di saat dunia Zain bergerak maju dengan begitu megah, dunia Zarfa justru perlahan-lahan menyempit dan menggelap.
Kondisi fisik Zarfa memburuk dengan kecepatan yang menakutkan. Apa yang awalnya ia duga sebagai kelelahan biasa akibat tugas sekolah, ternyata merupakan manifestasi dari penyakit ganas yang diam-diam telah mengakar di dalam tubuhnya: leukemia stadium lanjut. Diagnosis dokter datang bagaikan petir di siang bolong bagi keluarganya. Namun, Zarfa, dengan keteguhan hati yang luar biasa, meminta satu hal kepada orang tuanya.

"Jangan beri tahu Zain," bisik Zarfa suatu sore, saat ia sudah terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus menancap di punggung tangannya. "Zain baru saja memulai kariernya. Dia sedang bahagia di sana. Jika dia tahu aku sakit, dia pasti akan panik dan konsentrasinya buyar. Aku tidak ingin menjadi penghalang bagi impiannya." Orang tua Zarfa hanya bisa menangis, menuruti permintaan putri mereka yang terlampau memikirkan kebahagiaan orang lain di atas keselamatannya sendiri.

Selama berminggu-minggu di rumah sakit, ponsel menjadi satu-satunya jendela bagi Zarfa untuk melihat dunia luar, dan yang paling penting, untuk melihat Zain. Setiap kali ada pesan masuk dari Zain, Zarfa akan mengumpulkan seluruh sisa energinya untuk membalas dengan nada yang riang, menyembunyikan kenyataan bahwa ia sedang dikelilingi oleh bau obat-obatan dan bunyi ritmis dari mesin pemantau detak jantung.

Zain: "Zarfa, maaf ya aku baru membalas pesanmu. Hari ini kantorku kedatangan klien besar dari Prancis. Aku sibuk sekali sampai lupa makan siang. Bagaimana harimu di sekolah?"

Zarfa: "Tidak apa-apa, Zain! Aku senang mendengarnya, itu berarti performamu dinilai baik oleh perusahaan. Hariku di sekolah menyenangkan seperti biasa. Tugas-tugas menjelang ujian akhir memang agak menumpuk, jadi aku juga agak sibuk. Jangan lupa makan, Zain. Kesehatanmu yang utama."

Zarfa berbohong. Tidak ada tugas sekolah, tidak ada ujian akhir yang sedang ia hadapi. Yang ada hanyalah deretan botol obat dan kemoterapi yang perlahan-lahan merontokkan rambutnya. Namun, di balik kebohongan itu, ada satu ketakutan terbesar yang selalu menghantui Zarfa: ketakutan bahwa ia tidak akan pernah bisa menyampaikan apa yang sesungguhnya ia rasakan kepada Zain. Zarfa menyukai Zain. Bukan hanya sebagai sahabat tempat berbagi cerita, melainkan sebagai seorang pria yang ia inginkan untuk menjadi pendamping sisa hidupnya. Namun, ia selalu menahan diri. Ia berpikir, 

“Bagaimana mungkin aku mengikatnya dengan perasaanku, sementara jarak kami begitu jauh dan usiaku mungkin tidak akan lama lagi?” rasa suka itu ia simpan rapat-rapat, dikubur di bawah tumpukan kalimat-kalimat penyemangat harian.
Di sisi lain bumi, Zain sebenarnya merasakan hal yang sama. Setiap kali ia melihat senyum Zarfa di layar ponsel atau mendengar tawa gadis itu lewat pesan suara, ada getaran hebat yang melanda dadanya. Ada keinginan kuat untuk mengatakan, 

"Zarfa, aku menyukaimu lebih dari apa pun. Maukah kamu menungguku kembali ke Indonesia?" namun, ego dan ketakutan sebagai seorang pria muda sering kali menahannya. Zain selalu berpikir bahwa waktu masih panjang. Ia ingin memantapkan kariernya terlebih dahulu di Yunani, mengumpulkan pundi-pundi kesuksesan, dan barulah setelah posisinya mapan, ia akan pulang dan melamar Zarfa secara langsung. Sebuah keyakinan yang kelak akan menjadi bumerang paling mematikan bagi jiwanya.

BAGIAN 3: ISYARAT YANG DIABAIKAN KARENA DUNIA

Waktu terus bergulir tanpa kompromi. Malam itu, di kamar rumah sakit yang sunyi, tubuh Zarfa terasa semakin dingin. Napasnya pendek-pendek, dan pandangan matanya mulai mengabur. Ia tahu bahwa waktu yang diberikan Tuhan kepadanya tidak akan lama lagi. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia meraih ponselnya yang diletakkan di dekat bantal. Layarnya memantulkan wajah Zarfa yang pucat pasi dan kurus.

Ia membuka ruang obrolannya dengan Zain. Pesan terakhir dari Zain dikirimkan dua belas jam yang lalu, menceritakan tentang rencana liburan akhir pekan bersama rekan-rekan kantornya ke Kepulauan Santorini. Zarfa tersenyum lirih. Ia mulai mengetik sebaris pesan, jemarinya bergetar hebat, beberapa kali salah menekan huruf, namun ia paksakan dengan seluruh kehendak yang tersisa.

Zarfa: "Zain... jika suatu hari nanti kamu berdiri di pantai Santorini dan melihat langit yang sangat cerah, ketahuilah bahwa aku selalu bangga padamu dari tempat mana pun aku berada. Terima kasih telah menjadi sahabat terbaik, menjadi bagian terindah dalam hidupku yang singkat ini. Maafkan aku jika selama ini aku sering mengganggumu dengan pesan-pesanku. Jaga dirimu baik-baik di sana, Zain. 

"Tolong, jangan pernah lupakan aku..."

Setelah menekan tombol kirim, ponsel itu terlepas dari genggaman Zarfa, jatuh di atas seprai putih. Zarfa memejamkan matanya, air mata mengalir pelan dari sudut matanya yang sayu, membasahi bantal. Ia telah menyampaikan salam perpisahannya, meski tanpa kata cinta yang sejati.

Di Athena, jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika pesan itu masuk ke ponsel Zain. Saat itu, Zain baru saja menyelesaikan makan malam bisnis yang melelahkan dengan beberapa investor lokal. Ketika ponselnya bergetar, ia mengeluarkan benda itu dari saku jasnya dan membaca pesan Zarfa dari bilah notifikasi.

Zain mengernyitkan dahi. Kalimat-kalimat Zarfa terasa agak tidak biasa, terkesan terlalu melankolis bagi seorang sahabat. Namun, rasa lelah yang teramat sangat setelah seharian bekerja membuat daya kritisnya tumpul. Ditambah lagi, kepalanya agak pening akibat segelas anggur yang ia minum tadi.

“Zarfa mungkin hanya sedang kelelahan atau terlalu sentimentil karena rindu,” pikir Zain dalam hati. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku tanpa membalas pesan tersebut. Dalam benaknya, ia membatin, “Besok pagi saja setelah aku bangun tidur, aku akan meneleponnya langsung. Sekarang aku terlalu lelah untuk mengetik balasan panjang.”

Zain kembali ke apartemennya, langsung merebahkan diri di atas tempat tidur, dan terlelap dalam hitungan menit. Ia tidak pernah tahu bahwa ketidaksediaannya meluangkan waktu selama dua menit malam itu akan menjadi penyesalan terbesar yang akan mengutuk sisa hidupnya dengan rasa bersalah yang tak berkesudahan.

BAGIAN 4: KETIKA DUNIA RUNTH DALAM SATU TELEPON

Dua hari berlalu. Kesibukan di akhir pekan membuat Zain benar-benar tersedot ke dalam pusaran pekerjaannya. Ia memandu turis VIP mengelilingi Acropolis, menghadiri pertemuan malam, dan ketika ia kembali ke apartemen, ia selalu berakhir dengan langsung tertidur. Ia sempat menyadari bahwa Zarfa tidak lagi mengirimkan pesan pagi seperti biasanya, namun ia menenangkan dirinya dengan berpikir bahwa gadis itu mungkin sedang fokus menghadapi ujian sekolah. Hingga pada hari Senin sore, saat Zain sedang duduk di meja kerjanya sambil memeriksa beberapa dokumen laporan keuangan, ponselnya di atas meja bergetar hebat. Layarnya menampilkan sebuah panggilan masuk. Jantung Zain berdegup agak kencang saat melihat nama yang tertera di sana ‘Zarfa’. Ada rasa lega sekaligus rindu yang membuncah. Zain segera menggeser tombol hijau ke kanan dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Zarfa! Maafkan aku, ya, beberapa hari ini aku benar-benar—"

"Halo, Zain..." Kalimat Zain terputus di udara. Suara yang terdengar dari seberang sana bukanlah suara lembut nan ceria milik Zarfa yang selalu ia rindukan. Itu adalah suara seorang wanita paruh baya, suara ibu Zarfa. Dan yang membuat darah Zain seketika berdesir dingin adalah nada dari suara itu—parau, bergetar hebat, dan diiringi oleh isak tangis yang berusaha ditahan dengan susah payah.

"T-Tante?" tanya Zain, perasaannya mendadak tidak enak. Rasa cemas yang luar biasa tiba-tiba merayap naik dari perutnya, mencengkeram dadanya hingga terasa sesak. 

"Ada apa, Tante? Di mana Zarfa? Mengapa Tante yang membawa ponselnya?" Suara tangis di seberang telepon akhirnya pecah, terdengar begitu memilukan dan menyayat hati, melintasi ribuan kilometer jaringan kabel bawah laut hingga langsung menusuk ke dalam kesadaran Zain.

"Zain... Zarfa, Nak... Zarfa sudah tiada," ucap ibu Zarfa di sela-sela tangisnya yang histeris. "Zarfa mengembuskan napas terakhirnya tadi pagi di rumah sakit..."

Brak!

Pena yang dipegang Zain terlepas dari jemarinya, menggelinding jatuh ke lantai. Seluruh tubuh Zain seketika kaku, membeku bagaikan patung es. Dunia di sekitarnya seolah mendadak kehilangan semua warna, berubah menjadi abu-abu yang pekat. Suara-suara bising di kantor pariwisata tempatnya bekerja lenyap, digantikan oleh dengungan sunyi yang memekakkan telinga.

"Tante... apa maksudnya? Ini tidak lucu. Jangan bercanda dengan hal seperti ini, Tante," suara Zain bergetar, mencoba menyangkal apa yang baru saja ia dengar. "Dua hari lalu Zarfa masih mengirimiku pesan. Dia bilang dia baik-baik saja. Dia hanya sibuk belajar untuk ujian sekolah!"

"Dia berbohong padamu, Zain!" ratap ibunya. "Zarfa menderita leukemia stadium lanjut selama beberapa bulan terakhir. Dia melarang kami, orang tuanya, untuk memberi tahumu karena dia tidak ingin merusak kebahagiaanmu yang baru saja diterima kerja di Yunani. Dia memikul semua rasa sakit itu sendirian, Zain... sendirian demi menjaga mimpimu!"
Kata-kata itu menghantam kesadaran Zain bagaikan hantaman gada besi yang menghancurkan seluruh dinding pertahanan jiwanya. Air mata yang tak pernah ia duga akan keluar di tempat kerja, kini meluncur deras membasahi pipinya. Rasa bersalah yang teramat sangat, yang begitu pekat dan hitam, langsung mengunci tenggorokannya hingga ia sulit untuk bernapas.

Ia teringat pesan terakhir dari Zarfa yang ia abaikan dua malam lalu. Pesan yang ia anggap sebagai kalimat sentimentil biasa, ternyata adalah sebaris salam perpisahan dari belahan jiwa yang sedang meregang nyawa di atas ranjang pesakitan.

“Aku mengabaikannya... Aku mengutamakan pekerjaanku, egoku, duniaku, di atas dia yang sedang sekarat menungguku,” batin Zain menjerit, merutuki dirinya sendiri dengan segala kutukan yang ada.
"Dia terus memandangi pintu kamar rawatnya hingga detik-detik terakhir, Zain," lanjut ibu Zarfa dengan suara yang semakin melemah akibat kelelahan menangis. "Dia tidak pernah menyebutkan rasa sakitnya, dia hanya terus menanyakan apakah ada pesan masuk dari kamu... Dia menunggumu, Zain."
Zain tidak mampu lagi menahan berat tubuhnya. Ia terjatuh dari kursi kerjanya, berlutut di bawah meja dengan kedua tangan memegang kepala yang terasa ingin pecah. Air matanya mengalir tanpa henti, membasahi lantai karpet kantor. Rekan-rekan kerjanya yang melihat kejadian itu terkejut dan mencoba mendekat, namun Zain tidak memedulikan mereka lagi.

Satu hal yang paling menghancurkan jiwanya saat itu bukan hanya kenyataan bahwa Zarfa telah tiada, melainkan sebuah rahasia besar yang belum sempat ia katakan. Ia belum pernah mengatakan bahwa ia mencintai Zarfa. Ia telah menunda-nunda kata itu, menyimpannya untuk masa depan yang ia kira pasti akan datang, dan kini, masa depan itu telah direnggut paksa oleh maut, menyisakan kata "cinta" yang membusuk di dalam dadanya tanpa pernah sempat tersampaikan kepada sang pemilik hati.
Tanpa berpikir panjang, Zain bangkit dengan tubuh gemetar. Ia meninggalkan tasnya, mengabaikan pekerjaannya, dan berlari keluar dari gedung kantor menuju apartemennya. Hanya ada satu hal di otaknya: ia harus pulang ke Indonesia. Ia harus menemui Zarfa untuk terakhir kalinya, meskipun ia tahu bahwa perjalanan ini adalah perjalanan paling terlambat dan paling sia-sia dalam hidupnya.

BAGIAN 5: PERJALANAN PENUH DOSA DAN PENYESALAN

Penerbangan dari Athena menuju Jakarta, yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat, terasa bagaikan siksaan di dalam neraka jahanam bagi Zain. Sepanjang belasan jam di dalam burung besi, ia hanya bisa menatap keluar jendela, memandangi hamparan awan putih yang luas. Pikirannya berputar-putar pada kenangan masa lalu tentang bagaimana mereka pertama kali berkenalan secara daring, tentang tawa Zarfa yang renyah, dan tentang bagaimana ia selalu menunda untuk mengungkapkan perasaannya.

Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Zarfa yang tersenyum muncul, disusul oleh bayangan baris-baris pesan terakhir yang tidak sempat ia balas. Air mata Zain terus mengalir diam-diam, membuat penumpang di sebelahnya menatap dengan pandangan simpati, namun Zain terlalu tenggelam dalam lautan penyesalannya sendiri untuk memedulikan sekitar.
“Kenapa aku begitu bodoh?” tanyanya pada diri sendiri berulang-ulang, seolah pertanyaan itu bisa memutar balik waktu. “Kenapa aku harus menunggu sukses untuk mengatakannya? Kenapa aku tidak mengatakannya saja setiap hari, setiap kali aku merasakannya? Sekarang, bahkan jika aku berteriak hingga tenggorokanku berdarah, dia tidak akan pernah bisa mendengarnya lagi.”

Kereta waktu telah berangkat, meninggalkan Zain yang terjebak dalam stasiun penyesalan abadi. Rasa suka yang ia simpan rapi kini menjelma menjadi racun yang menggerogoti warasnya. Ia merasa menjadi manusia paling berdosa di muka bumi—seorang pengecut yang menyembunyikan cinta di balik kata persahabatan, dan seorang egois yang mengabaikan panggilan terakhir dari orang yang paling berharga dalam hidupnya.

BAGIAN 6: PERTEMUAN TERAKHIR DI UJUNG TANGISAN

Hari sudah beranjak pagi ketika taksi yang membawa Zain memasuki kawasan perumahan tempat tinggal Zarfa. Dari kejauhan, pemandangan itu sudah cukup untuk membuat jantung Zain berhenti berdetak sesaat. Sebuah tenda kain berwarna putih kekuningan telah berdiri tegak di depan rumah Zarfa. Bendera kuning kecil tampak melambai-lambai ditiup angin sepoi-sepoi di ujung gang, seolah mengonfirmasi bahwa segala mimpi buruk yang dialami Zain sejak kemarin adalah kenyataan yang mutlak. Beberapa karangan bunga duka cita berjajar di sepanjang pagar rumah, menampilkan nama "Zarfa" bersanding dengan untaian kata-kata belasungkawa. Para pelayat berpakaian hitam atau putih tampak duduk berkerumun di bawah tenda, berbicara dengan suara rendah yang penuh takzim.

Zain turun dari taksi dengan kaki yang terasa kaku, seolah-olah seluruh tulangnya telah lolos dari tubuhnya. Langkah kakinya berat, terseret-seret di atas aspal. Ia berjalan menembus kerumunan pelayat yang menatapnya dengan pandangan penuh tanya dan iba. Beberapa orang yang mengenali Zain sebagai sahabat dekat Zarfa membukakan jalan untuknya.

Saat melangkah melewati pintu depan rumah, aroma harum bunga melati yang bercampur dengan minyak wangi khas jenazah dan dupa langsung menyengat indra penciuman Zain, membuat perutnya mual karena rasa sedih yang memuncak. Di tengah ruang tamu yang telah dikosongkan dari perabotan, sebuah keranda besi berlapis kain hijau tua bersulamkan ayat-ayat suci terletak dengan agung. Di sekelilingnya, keluarga dekat duduk bersimpuh sambil melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara yang parau akibat terlalu banyak menangis.

Ibu Zarfa, yang duduk di dekat kepala keranda, mendongak ketika menyadari kehadiran seseorang. Begitu melihat wajah Zain yang kacau, berantakan, dengan mata yang bengkak dan merah, tangis wanita paruh baya itu kembali pecah. Ia bangkit dan langsung memeluk Zain dengan erat.

"Zain... kamu datang, Nak... kamu datang..." bisik ibu Zarfa di sela-sela tangisnya. Zain tidak bisa berkata apa-apa. Tenggorokannya terkunci rapat. Ia hanya bisa membalas pelukan itu dengan tubuh yang bergetar hebat. Setelah beberapa saat, ibu Zarfa melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Zain dengan pandangan yang dalam.

"Zarfa sudah dimandikan dan dikafani, Zain. Sebentar lagi dia akan disalatkan dan dibawa ke pemakaman. Masuklah, lihat dia untuk yang terakhir kalinya. Dia menunggumu dari kemarin," ucap ibunya sambil membimbing Zain untuk berlutut di samping keranda.
Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, ayah Zarfa yang berada di sisi lain membuka lipatan kain hijau penutup keranda, lalu membuka sedikit bagian kafan yang menutupi wajah Zarfa. Ketika wajah itu terekspos di depan matanya, runtuhlah sudah sisa-sisa kekuatan yang dimiliki Zain.

Zarfa terbaring di sana. Wajahnya yang dahulu selalu merona cerah kini tampak begitu putih pucat, seputih kain kafan yang membungkus tubuhnya. Matanya yang biasa berbinar jenaka kini terpejam rapat untuk selamanya di bawah kelopak yang sunyi. Namun, ada satu hal yang membuat dada Zain semakin remuk: di bibir yang telah kehilangan warna itu, ada gurat senyuman yang sangat tipis, sangat tenang, seolah-olah gadis itu pergi tanpa menyimpan dendam sedikit pun kepada dunia yang telah memperlakukannya dengan kejam, atau kepada sahabatnya yang telah mengabaikannya.

Zain mendekatkan wajahnya ke tepi keranda. Ia memberanikan diri mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menyentuh tepi dahi Zarfa yang tersembunyi di balik kain putih. Kulit itu terasa teramat dingin, sedingin es, menegaskan bahwa tidak ada lagi kehidupan yang berdenyut di sana.

"Zarfa..." bisik Zain. 

Suaranya terdengar begitu hancur, begitu parau hingga nyaris tak menyerupai suara manusia. Air matanya menetes satu demi satu, jatuh di atas permukaan kain kafan yang membungkus dada Zarfa.

"Maafkan aku... Maafkan aku, Zarfa... Aku datang terlambat. Aku adalah manusia paling bodoh yang pernah ada di hidupmu," ucap Zain, air matanya kian menderas, membasahi pipinya sendiri hingga pandangannya kabur.

Ia menatap wajah tenang itu dengan tatapan yang dipenuhi oleh rasa frustrasi dan keputusasaan yang mendalam. Rasa suka yang selama ini ia kunci rapat di dalam hatinya, kini mendesak keluar dengan kekuatan penuh, menghancurkan segala bentuk gengsi dan ketakutan yang dahulu ia agungkan. Di depan raga yang telah mati, di hadapan para pelayat yang menyaksikan dengan hati teriris, Zain akhirnya melepaskan rahasia terbesarnya.

"Zarfa, dengarkan aku... Aku tidak pernah melihatmu hanya sebagai sahabat. Aku menyukaimu... Aku mencintaimu, Zarfa! Sejak lama, sejak setiap malam kita bertukar cerita, aku selalu mencintaimu!" teriak Zain dengan suara tertahan, menumpahkan seluruh perasaan yang selama ini membusuk di dalam dadanya.

"Aku mengumpulkan uang di Yunani, aku mengejar karier di sana, itu semua karena aku ingin kembali ke sini dan melamarmu! Aku ingin membahagiakanmu, Zarfa! Tapi kenapa... kenapa kamu tidak pernah memberi tahuku tentang sakitmu? Kenapa kamu membiarkan aku hidup dalam kebodohan ini sementara kamu menahan semua rasa sakit itu sendirian?!"

Zain menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, bersujud di tepi keranda dengan bahu yang naik turun terguncang hebat oleh tangisan yang histeris. Penyesalan itu membakar batinnya dengan rasa sakit yang teramat sangat. Kata-kata cintanya kini tidak lebih dari sekadar angin lalu yang tak akan pernah bisa menembus dinding kematian. Zarfa tidak akan pernah merona mendengarnya, Zarfa tidak akan pernah membalas pelukannya, dan Zarfa tidak akan pernah tahu bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

Ibu Zarfa yang melihat pemandangan memilukan itu ikut bersimpuh di samping Zain, mengusap punggung pemuda itu dengan lembut, mencoba memberikan sedikit kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehilangan.

"Sudah, Zain... sudah. Zarfa sudah tenang di sana. Jangan buat perjalanannya berat dengan ratapanmu," bisik ibunya dengan suara yang terputus-putus. 

"Sebelum pergi, dia meninggalkan ini untukmu. Dia menyimpannya di bawah bantal rumah sakit." Ibu Zarfa menyerahkan sebuah buku catatan kecil bersampul beludru biru tua warna kesukaan Zain. Dengan tangan yang masih gemetar hebat dan pandangan yang basah oleh air mata, Zain menerima buku tersebut. Ia membukanya perlahan, melewati halaman-halaman yang berisi catatan harian singkat tentang aktivitas Zarfa, hingga ia tiba di halaman paling terakhir. Tulisan di halaman itu tampak agak berantakan, ditulis dengan sisa tenaga yang sangat minim, namun setiap hurufnya menggoreskan luka baru yang sangat dalam di hati Zain.

Untuk Zain, lelaki di seberang samudra.

Jika kamu membaca surat ini, itu berarti aku sudah tidak bisa lagi membalas pesan-pesan pagimu. Maafkan aku karena telah menyembunyikan rahasia besar ini darimu. Aku hanya ingin kamu fokus pada hari pertamamu bekerja, aku ingin kamu sukses mengejar impianmu di negeri para dewa itu tanpa perlu mencemaskanku di sini.
Zain... ada satu hal yang tidak pernah berani aku katakan padamu secara langsung karena aku terlalu takut kehilangan persahabatan kita. Tapi sekarang, di sisa waktuku yang tinggal sedikit, aku ingin jujur. Aku menyukaimu, Zain. Bukan hanya sebagai sahabat tempatku bercerita, tetapi sebagai seorang pria yang selalu menghuni hatiku. Setiap pagi, notifikasi darimu adalah alasan utamaku untuk tersenyum dan bertahan melawan rasa sakit ini.
Terima kasih telah menjadi bagian terindah dan paling berharga dalam hidupku yang singkat ini. Jangan pernah merasa bersalah atas kepergianku. Ini adalah takdirku. Berjanjilah padaku satu hal: tetaplah hidup dengan baik di Yunani, kejar semua mimpimu, dan carilah kebahagiaanmu di sana. Setiap kali kamu melihat langit cerah di Santorini, ingatlah bahwa aku sedang tersenyum melihatmu dari atas sini. Aku mencintaimu, Zain. Dulu, sekarang, dan selamanya.
— Zarfa.

Setelah membaca kata terakhir dari surat itu, Zain mendekapkan buku catatan tersebut ke dadanya dengan sangat erat. Ia menangis sejadi-jadinya, melolongkan rasa sakit yang tak terperikan di dalam hatinya. Dunia terasa begitu kejam, dan dirinya terasa begitu kerdil di hadapan takdir. Rasa suka yang terlambat diungkapkan, kini bertukar menjadi sebentuk penyesalan yang akan ia bawa mati.
Beberapa saat kemudian, waktu kunjungan terakhir pun habis. Kain kafan Zarfa ditutup kembali sepenuhnya, diikat dengan tali-tali simpul yang menandakan perpisahan fisik secara mutlak. Keranda besi itu mulai diangkat oleh beberapa orang pria untuk dibawa menuju masjid dan kemudian ke liang lahat.

Zain bangkit dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia berjalan di belakang keranda, ikut mengantarkan raga gadis yang ia cintai menuju tempat peristirahatan terakhirnya di bawah liang tanah. Di bawah langit pagi Indonesia yang perlahan mulai terik, Zain melepas kepergian Zarfa dengan hati yang telah mati sebagian. Pertemuan terakhir yang tragis itu mengukir sebuah janji suci di dalam batinnya: ia akan kembali ke Yunani, ia akan terus hidup dan mengejar kesuksesan seperti yang diinginkan Zarfa, namun namanya dan cintanya kepada Zarfa akan tetap tinggal di sana, terkubur bersama raga sang gadis di bawah gundukan tanah merah yang dipenuhi taburan bunga melati.

Postingan populer dari blog ini

Luka di Balik Jarak